Dungdung, Pot Bunga dari Akar Pohon Siwalan
Kamis, 26 November 2009, 12.16 WIB
Get the Flash Player to see this player.
Ingin tahu berita terbaru NASIONAL lewat HP Anda? Ketik REG spasi NASIONAL kirim ke 9545 !

Kreatifitas warga Madura tak pernah padam. Seorang pengrajin asal Desa Andulang, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, berhasil menyulap akar pohon Siwalan menjadi aneka pot bunga. Hebatnya lagi, dungdung buatan Madura ini, berhasil menembus pasar ekspor Eropa.

Buah kreatifitas ini lahir dari tangan dingin Asnito (45). Saat ini, Asnito mempekerjakan enam orang pengrajin pot. Ide awal membuat pot bunga bercorak kontemporer ini bermula dari seringnya Asnito melihat akar pohon siwalan dibuang percuma.

Wilayah Sumenep dikenal sebagai sentra pohon Siwalan. Pemiliknya mengolah nira Siwalan menjadi gula merah. Sedangkan buah Siwalan dijajakan di pinggir jalan raya Sumenep-Surabaya sebagai buah tangan para pengguna jalan.

Saat pohon Siwalan sudah tua dan tak produktif karena terserang hama, maka ditebang pemiliknya. Batang pohonnya dijual untuk kayu bangunan. Sedangkan akarnya yang masih menancap di dalam tanah, terkadang dibakar atau dibiarkan.

Melihat fenomena ini, Asnito lalu tergerak untuk memanfaatkan akar Siwalan. Asnito lalu membeli akar-akar pohon Siwalan dan dibawa pulang. Di rumahnya, Asnito mengambil peralatan ukir, seperti kampak dan tatah.

Lalu, Asnito mencoba membuat pot bunga. Hasilnya, luar biasa. Pot bunga dari akar Siwalan buatannya diminati tetangganya. Asnito kesulitan memberi merk untuk pot buatannya. Asnito lalu mengetok dan memukul pot buatannya. Suara dungdung keluar dari pot. Asnito lalu menamakan pot buatannya dengan dungdung.

Pengalaman dua tahun lalu itu, akhirnya mengantarkan pot bunga buatan Asnito menjadi barang ekspor ke daratan Eropa. Kini, Asnito memasok dungdung ke seorang eksportir di Bali. Dua kali sebulan sebanyak 300 buah dungdung. Harga per dungdung bervariasi. Yang besar dilepas Rp 350 ribu, dungdung kecil Rp 250 ribu.

Setelah dipoles di Bali, harga dungdung kualitas ekspor melambung 10 kali lipat mencapai Rp 2,5 juta. Di tangan pengrajin Bali, dungdung pasokan Asnito ini, lalu diukir dengan motif eksotik. Lalu dioles bahan politur khusus sehingga nampak seperti barang kuno nan antik.

| Rep/Kam/Pen: Arif Purbadi-Madura | VO: Riana | Editor video: Ita |
Comments
Add NewSearch
Write comment
Name:
Title:
Security Image
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved.