Isi Liburan, Latihan Menjadi Bhikku Cilik
Senin, 29 Juni 2009, 14.19 WIB
Get the Flash Player to see this player.
Puluhan anak laki-laki dan perempuan mengisi liburan panjang dengan mengikuti pelatihan Pabbajja Samanera dan Upasika Atthanggasila di kota Jambi. Mereka melatih diri menjalani kehidupan mandiri dan bagaimana menjadi seorang Bhikkhu.  Selama 5 hari Vihara Sakyakirti Jambi, di jalan Pangeran Diponegoro, Kelurahan Sulanjana, Kecamatan Jambi timur, ramai dikunjungi umat Buddha dari berbagai kalangan. Pasalnya, selama 5 hari, 52 anak laki-laki dan 31 anak perempuan mengikuti latihan Pabbajja Samanera / latihan menjadi Bhikkhu dan Upasika Atthanggasila / melatih jalankan 5 Sila Buddha.

Banyak anak-anak sekarang hidup dari kecukupan, kemewahan dan suka dimanjakan kedua orangtua, hingga segala sesuatu kebutuhan mereka selalu tersedia, tanpa mau mengambil sendiri, berusaha sendiri, maka para orangtua anak-anak rela melepaskan anak mereka untuk mengikuti latihan Pabbajja Samanera dan Upasika Atthanggasila, sambil mendampingi putra-putri mereka. Peserta terdiri dari anak Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama se-Provinsi Jambi. Latihan dilaksanakan selama 5 hari, makna dari latihan agar anak-anak tersebut tidak menjadi seorang anak yang manja dan dapat menghargaan makanan pemberian orang lain.

Selama mengikuti latihan para peserta laki-laki dan perempuan berkewajiban mengikuti peraturan layaknya hidup seorang Bhikkhu, Bhikhhuni, seperti hidup mandiri mulai dari nginap di Vihara, bangun pagi membersihkan tempat tidur, mandi, makan, cuci piring, cuci pakaian, semuanya dilakukan sendiri. Pada umumnya peserta terdiri dari berbagai kalangan, yang hidup sehari-hari dimanjakan orangtua maupun kebutuhan sehari-hari masih mengandalkan orangtua.

Acara Pabbajja Samanera dan Atthanggasila tidak hanya dihadiri oleh 84 peserta, juga dihadiri para orangtua peserta.
Setelah menjalani pelatihan semala 5 hari di Vihara Sakyakirti Jambi, mereka juga menjalani ujian kesabaran dan ketahanan fisik dengan berjalan kaki tanpa mengenakan alas kaki lebih kurang 4 kilometer.

Mereka menjalani Pindapatta yang didahului oleh para Bhikkhu, Bhikkhuni dengan cara berjalan kaki dengan kepala tertunduk sambil membawa Patta/ Patra (mangkok makanan) untuk menerima, memperoleh dana makanan dari umat guna menunjang kehidupannya. Mereka keluar dari Vihara dan berjalan menelusuri daerah Koni 4, terus memasuki kawasan Kelurahan Budiman, Jalan Orang Kayo Hitam dan kembali ke Vihara. Sepanjang jalan umat yang ingin berdana telah menyiapkan dananya yang akan diberikan kepada Sangha, kemudian dana berupa makanan nasi, lauk pauk, kue-kue, buah-buahan dan lain-lain dimasukkan kedalam Patta para Bhikkhu, Bhikkhuni dan calon Samanera.

Makanan yang campur aduk itulah yang akan dimakan oleh para bhikkhu, bhikkhuni, calon samanera setelah mereka kembali ke vihara, tanpa merasa jijik atau tidak suka pada makanan yang diberikan oleh umat, bagi seorang bhikkhu, bhikkhuni calon samanera makanan itu hanyalah untuk kelangsungan hidup, bukan untuk kenikmatan.  Pada umumnya peserta yang terdiri dari usia 10 hingga 15 tahun merasa senang bisa mengikuti pelatihan itu, walaupun masih terlihat ada yang tidak pahan dengan

| Rep/ Kam/ Pen : Romy | VO: Riana, Henri | Editor video: Fajar |
Comments
Add NewSearch
Write comment
Name:
Title:
Security Image
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved.