| Cuaca Buruk Turunkan Kualitas Budidaya Rumput Laut |
| Selasa, 10 Pebruari 2009, 08.00 WIB | |||||
|
Get the Flash Player to see this player.
Cuaca buruk yang melanda perairan laut di pesisir utara dan selatan Pulau Madura, memukul kalangan petani rumput laut di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Hempasan elombang tak jarang merusak keramba apung tempat mendeder bibit rumput laut. Selain itu, air hujan menghambat proses pengeringan hasil panen rumput laut.Di Kabupaten Sumenep, terdapat tiga kecamatan yang menjadi sentra rumput laut. Yakni di Kecamatan Bluto, Kecamatan Saronggi, dan Kecamatan Pakandangan. Dari tiga wilayah kecamatan itu, terhampar ribuan petak keramba apung budidaya rumput laut. Selama empat tahun ini, komoditas rumput laut coklat dan rumput laut hijau asal Sumenep ini, menembus pasaran ekspor ke negeri Korea. Sayang, cuaca buruk yang melanda perairan Sumenep sebulan ini, berakibat fatal bagi perkembangan budidaya rumput laut. Seperti yang dirasakan Subaidah (45) ini. Petani rumput laut asal Desa Lobuk, Kecamatan Saronggi ini, mengalami kerugian yang cukup besar. Sebab, 10 petak keramba rumput laut milik keluarganya harus dipanen dini lantaran hantaman gelombang dan guyuran hujan. Menurut Subaidah, curah hujan yang cukup lebat akan mengangkat lumpur laut. Lumpur inilah yang menghambat pertumbuhan rumput laut. Bibit rumput laut akan kerdil dan membusuk. Jika terjadi pembusukan bibit, maka kuantitas hasil panen rumput laut dipastikan anjlok. Karena cuaca buruk itupula, Subaidah bersama petani rumput laut lainnya, terpaksa melakukan panen dini. Jika cuaca normal, rumput laut dipanen setelah berumur 70 hari. Derita petani rumput laut tak berhenti disitu. Musim hujan seperti sekarang ini, menghambat waktu proses pengeringan. Jika musim kemarau cukup dijemur sehari, kini Subaidah harus mengeringkan hasil panen rumput laut miliknya selama 3 hari. Menurut Subaidah, selama cuaca buruk ini, harga rumput laut anjlok. Harga saat cuaca normal bias menembus Rp 300 ribu per kuintal. Kini, rumput laut milik petani hanya dihargai Rp 125 ribu per kuintal. Kini, Subaidah hanya bisa berharap agar cuaca buruk segera normal kembali. Reporter/Kamerawan/Penulis: ARIF PURBADI/ Vo: Riana, Hendri/ Editor: Ardie
Powered by !JoomlaComment 3.12 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved. |
|||||
| VIDEO LAIN |
|---|
| VIDEO TERKAIT |
|---|


Roy Suryo : Misteri Supersemar
emangnya sampai seberapa penting sih supersemar untuk bangsa ini?kenapa musti he...
Tanding Persahabatan, Jakmania Bentrok ...
bambang pamungkas - kak bepe aku ini vens berat kakak !!! kakak bisa tidak datan...
Kisah Desa Korban Keganasan HIV/AIDS di ...
Video diatas - Kasihan sekali bila melihat mereka hidup tanpa orangtua karena te...
Sri Mulyani Akui Data BI Tak Memuaskan
perhimpunan rakyat nusantara - Sejak tgl 22 desember 2009 lalu, setelah pansus s...
Pemakaman Sang Legenda Sepakbola
drs.prof.ir.pmpd.mi.se.m - hjhhkoiu;ljiok;]o,p/['-p.;=['
Reog Ponorogo, Tarian Simbol Kerajaan Ma...
kok - file anda tolong diperbaharui... reog bukan dari kerajaan majapahit tapi d...
Tersangka Penipuan 60 Milyaran, Berkedok...
wkwkwkw - knapa kok gak ada yg bersangkutan dengan ham???
Nyatanya, Arthalita Kerap Rapat di Rutan...
Ngeles - Dah Gini Kok masih Ngeles
"Misteri" Tahi Lalat Arthalita
tahi lalat pembawa musibah - tahi lalat yang dimilikinya sama dengan tahi lalat ...
Australian Showcase featuring Akira Isog...
china granite - HI.lane frost countertop vid...