| Mencari Jejak Bidadari Halmahera |
| Minggu, 25 Januari 2009, 07.07 WIB | |||||||||||||
|
Get the Flash Player to see this player.
Kemisteriusan burung bidadari Halmahera, menggugah hati empat pekerja pers yang tergabung dalam tim Ekspedisi Donga-donga. Mereka mencoba melakukan investigasi, dengan meliput secara esklusif, keberadaan burung bidadari di tanah pasir putih desa Domato, kecamatan Jailolo Selatan, Kabupaten Halmahera Barat, yang oleh sebagian orang dianggap telah punah. Dengan menggunakan speed boat, pekerja pers yang tergabung dalam tim Ekspedisi Donga-donga ini, meninggalkan kota Ternate menuju Sidangoli, Halmahera Barat. Tiba di pelabuhan Sidangoli, tim Ekspedisi Donga-donga langsung menuju gubuk milik Demianus Bagali, seorang pria yang ikhlas menjaga dan merahasiakan lokasi tempat turunnya burung Bidadari agar tidak diburu orang yang tidak bertanggung jawab. Setelah mendengar penuturan Demianus, tim pun bergerak menelusuri setapak hutan tanah pasir putih, menuju lokasi burung Bidadari. Sejauh enam koma lima kilo meter, melewati belukar dan sungai yang airnya cukup deras. Tiba di sungai terakhir, tim beristirahat sejenak tepat di kaki bukit tempat habitat burung bidadari, Semioptera Wallacei turun dan menari. Rombongan meneruskan perjalanan tersisa menuju lokasi pemantauan dan menunggu. Tepat jam enam WIT,Kompas tv yang berkesempatan meliput perjalanan tim ekspedisi ini, akhirnya dapat mengabadikan gambar sang burung bidadari dengan bulu dan kicauannya yang khas dan berubah-ubah jenis dan temponya suaranya. Setelah matahari mulai meninggi, sang bidadari pun menghilang entah kemana. Tim seakan tertegun dengan kemisteriusan sang bidadari. Di hutan ini terdapat sekitar seratus lebih jenis burung enam di antaranya di temukan oleh alfred russel Wallace, seratus lima puluh tahun lalu. Namun, burung Bidadari atau Weka-weka dalam bahasa lokal kini terancam punah. Seiring perginya sang bidadari tim meninggalkan hutan tanah pasir putih. Burung bidadari masih ada namun diperkirakan populasinya tinggal seratus ekor dan tersebar di hutan Halmahera. Bahagia bisa menyaksikan burung-burung wallacea yang indah, namun resah karena burung-burung itu sedang menghitung mundur menuju kepunahan. Bukan tidak mungkin burung Surgawi hanya akan ditemui dalam buku-buku ilmiah dan dongeng jelang tidur jika hutan tidak diselamatkan. Saat ini, keindahan karunia tuhan sedang menuju kepunahan. Reporter/Kamerawan/ Penulis: Ghazali-Ternate/ Vo: Maya, Yosie/ Editor: Ardie
Powered by !JoomlaComment 3.12 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved. |
|||||||||||||
| VIDEO LAIN |
|---|
| VIDEO TERKAIT |
|---|


Roy Suryo : Misteri Supersemar
emangnya sampai seberapa penting sih supersemar untuk bangsa ini?kenapa musti he...
Tanding Persahabatan, Jakmania Bentrok ...
bambang pamungkas - kak bepe aku ini vens berat kakak !!! kakak bisa tidak datan...
Kisah Desa Korban Keganasan HIV/AIDS di ...
Video diatas - Kasihan sekali bila melihat mereka hidup tanpa orangtua karena te...
Sri Mulyani Akui Data BI Tak Memuaskan
perhimpunan rakyat nusantara - Sejak tgl 22 desember 2009 lalu, setelah pansus s...
Pemakaman Sang Legenda Sepakbola
drs.prof.ir.pmpd.mi.se.m - hjhhkoiu;ljiok;]o,p/['-p.;=['
Reog Ponorogo, Tarian Simbol Kerajaan Ma...
kok - file anda tolong diperbaharui... reog bukan dari kerajaan majapahit tapi d...
Tersangka Penipuan 60 Milyaran, Berkedok...
wkwkwkw - knapa kok gak ada yg bersangkutan dengan ham???
Nyatanya, Arthalita Kerap Rapat di Rutan...
Ngeles - Dah Gini Kok masih Ngeles
"Misteri" Tahi Lalat Arthalita
tahi lalat pembawa musibah - tahi lalat yang dimilikinya sama dengan tahi lalat ...
Australian Showcase featuring Akira Isog...
china granite - HI.lane frost countertop vid...